Menurut dia, Tangsel itu penduduknya sangat banyak tapi lahannya kecil. Jika Pemkot Tangsel masih melakukan pengelolaan sampahnya secara konvensional atau manual itu sudah tidak mungkin lagi.
Harus dengan high technology dan kolaborasi dengan pihak lain. Misalnya dengan pihak Puspitek atau Brin sekarang.
“Ya tentu saja harus bisa menggandeng investor,” tegasnya.
Menurutnya sudah banyak kota-kota di dunia dan daerah yang berhasil mengolah sampah dengan hi- tech, bahkan tekhnologinya juga sudah sangat berkembang. Tinggal dicontoh saja.
Bahkan BSD sendiri sudah bisa mengolah sampah dengan sangat baik. Itu juga bisa dicontoh oleh Pemkot Tangsel.
Sampah, kata Uten, sebenarnya bukan barang buangan yang tidak ada nilainya. Sampah bisa bernilai tinggi bila bisa dikelola dengan baik. Bisa menjadi bahan bangunan, menghasilkan teknologi listrik terbarukan, dan lainnya.
Para ahlinya sudah ada semua di Tangsel, di Puspiptek/BRIN, mereka semua bisa.
Nah, mengenai biaya itu persoalan klasik. Apa sih yang nggak pake biaya? Tapi semua itu tergantung kecerdasan kita untuk bagaimana membuat penggunaan dana lebih efisien.
Soal Tangsel menjadi smart city, kata Uten, sampai sekarang masih hanya jadi wacana di ruang-ruang formal saja.
Dalam kenyataanya Kota Tangsel masih terjebak dalam masalah klasik, yaitu kemacetan, banjir, dan sampah.
Tiga masalah itu yang menjadi janji dan agenda besar di awal pemerintahan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangsel.

























