Jakarta, HALOBANTEN.COM – Harga emas anjlok 2 persen pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026, setelah penguatan dolar Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak. Sementara itu, tekanan inflasi global turut memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga.
Data Refinitiv menunjukkan harga emas berakhir pada level US$4.047,15 per troy ons. Namun, pelemahan itu memutus tren penguatan emas selama dua hari sebelumnya.
Pada perdagangan Jumat, 24 Juli 2026, harga emas berbalik menguat tipis 0,04 persen menjadi US$4.048,59 per troy ons. Meski demikian, pergerakan tersebut belum mampu menutup penurunan sebelumnya.
Dolar AS dan Minyak Tekan Emas
Harga emas anjlok 2 persen seiring lonjakan indeks dolar AS menuju level 101,44. Akibatnya, emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang selain dolar.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil.
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebut lonjakan harga minyak mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Karena itu, pasar memperkirakan bank sentral akan menghadapi tekanan inflasi yang lebih besar.
Harga minyak Brent melonjak 7 persen menjadi US$100,69 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate naik 6,2 persen menuju US$92,19 per barel.
Dalam lima hari terakhir, harga Brent telah melesat lebih dari 19 persen. Selanjutnya, level US$100 per barel kembali tercapai untuk pertama kalinya sejak akhir Mei.
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Lonjakan harga minyak terjadi setelah kelompok Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker Arab Saudi. Akibatnya, pelaku pasar mencemaskan gangguan pasokan minyak global dari kawasan Selat Hormuz.
Kenaikan harga energi memperkuat perkiraan suku bunga tinggi bertahan lebih lama. Oleh sebab itu, minat investor terhadap emas cenderung melemah.
Pelaku pasar kini menunggu hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve pekan depan. Selain itu, investor juga menantikan pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai sekitar 83 persen. Angka tersebut meningkat dari 68 persen sehari sebelumnya.
Wyckoff memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun, setiap perubahan nada kebijakan berpotensi memicu pergerakan baru di pasar keuangan.
(SUR)































