“Jangankan kami yang bermodal kecil, pedagang besarpun di dua lokasi tersebut pada bangkrut lantaran sepi pembeli,” paparnya.
Atas penolakan itu, kata dia, terjadilah dialog antara perwakilan pedagang dengan Penjabat Wali Kota Tangerang, Nurdin.
Hasilnya, beber Gufron, Pj Wali Kota, sepakat relokasi di Pasar Mambo dan berkembang ke Pasar Anyar Selatan.
Namun hingga saat ini relokasi belum terealisasi. Dia menduga tidak adanya anggaran pendamping dari Pemkot Tangerang untuk biaya relokasi.
“Sepertinya itu yang terjadi,” tandasnya.
Karena, lanjut dia, hingga memasuki minggu ketiga setelah pertemuan antara Pemkot dan pedagang, relokasi pedagang belum tampak.
Ironisnya lagi, kata Gufron, kondisi Pasar Anyar saat ini sudah sangat memprihatinkan.
Selain memang sudah uzur, pada bagian tembok di lantai dua tumbuh pohon-pohon liar.
Dia pun mengakui sudah sudah lama pasar Anyar tidak terawat.
Padahal tiap hari pedagang selalu membayar retribusi pada Perumda Pasar Kota Tangerang.
Lalu kemanakah uangnya itu. “Ini yang juga jadi pertanyaan para pedagang,” tandasnya.
Sementara itu Dirut Pasar Kota Tangerang, Tietin Mulyati yang di konfirmasi masalah tersebut tak kunjung merespon. (Cak)















