News » TANGERANG RAYA » 185 Balita Serpong Tangsel Masuk Radar Intervensi Gizi, 60 Anak Jadi Prioritas

185 Balita Serpong Tangsel Masuk Radar Intervensi Gizi, 60 Anak Jadi Prioritas

Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – 185 balita Serpong Tangsel masuk radar intervensi gizi serentak untuk menangani masalah nutrisi dan mencegah stunting.

Program 185 balita Serpong Tangsel tersebut menjadi fokus Pemerintah Kota Tangerang Selatan karena Serpong mencatat kasus tertinggi.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Tangsel, Lilis Suryani, menyebut prevalensi stunting Serpong mencapai 1,45 persen.

BACA JUGA

“Dari seluruh Kota Tangerang Selatan, Kecamatan Serpong memang paling tinggi,” ujar Lilis, Senin (10/8/2026).

Menurut Lilis, Kelurahan Lengkong Wetan mencatat angka kasus tertinggi dalam wilayah Kecamatan Serpong.

Secara agregat, terdapat 185 balita yang membutuhkan perhatian melalui program intervensi gizi tersebut.

60 Balita Jadi Prioritas

Sebagai tahap awal, pemerintah memprioritaskan 60 balita berusia di bawah dua tahun.

Mereka berasal dari enam wilayah kerja puskesmas yang tersebar di Kecamatan Serpong.

Selain itu, sasaran program mencakup balita dengan berat badan kurang dan gizi kurang.

Program juga menyasar anak yang tidak mengalami kenaikan berat badan sesuai pertumbuhan.

Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menilai intervensi sejak dini sangat penting bagi masa depan anak.

Menurut Benyamin, kondisi gizi anak saat ini dapat memengaruhi kualitas generasi Indonesia menuju 2045.

“Kalau dari sekarang tidak kita intervensi, makanan harus seimbang antara tinggi badan, umur, dan berat badan,” kata Benyamin.

Karena itu, Pemkot Tangsel mendorong kolaborasi lintas sektor untuk menangani persoalan gizi anak.

Kolaborasi tersebut melibatkan puskesmas, kader, keluarga, pihak swasta, serta yayasan sosial.

Intervensi Berlangsung 56 Hari

Program intervensi gizi tersebut berlangsung selama 56 hari dengan pengawasan puskesmas masing-masing.

Setiap balita sasaran memperoleh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan komposisi gizi lengkap.

Menu tersebut mencakup karbohidrat, protein, sayuran, dan buah.

Selain pemberian makanan, nutrisionis juga memberikan edukasi mengenai pola asuh dan pemenuhan gizi anak.

“Program ini selama 56 hari dan puskesmas masing-masing menjadi pengarah pelaksana,” jelas Benyamin.

Selanjutnya, pemerintah memanfaatkan aplikasi Stunting Hub untuk memantau perkembangan balita.

Kader dan orang tua mengunggah foto perkembangan anak setiap hari melalui aplikasi tersebut.

Petugas juga mengukur berat serta tinggi badan anak sebelum menerima intervensi.

Kemudian, puskesmas melakukan pemantauan perkembangan setiap bulan hingga program berakhir.

Pemantauan tersebut bertujuan mengukur perubahan berat badan dan memastikan intervensi memberikan hasil sesuai target.

(LIF)

BERITA LAINNYA