Sekolah Inklusif Tangsel Jadi Sarana Bentuk Karakter Empati dan Cegah Perundungan

Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Sekolah Inklusif Tangsel tidak hanya mendorong prestasi akademik siswa. Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga memperkuat pendidikan karakter dan perlindungan anak dari perundungan.

Selain itu, Sekolah Inklusif Tangsel menghadirkan ruang interaksi yang mendorong toleransi dan empati. Melalui pergaulan sehari-hari, siswa belajar menghargai perbedaan sejak usia dini.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, menilai sekolah inklusif berfungsi sebagai laboratorium sosial. Menurutnya, lingkungan tersebut membentuk generasi yang peduli terhadap sesama.

BACA JUGA

Karena itu, Pilar mendorong siswa agar tumbuh menjadi pribadi yang inklusif. Mereka juga perlu memiliki semangat berbagi dan membantu teman berkebutuhan khusus.

Ia menegaskan seluruh warga sekolah harus menjaga lingkungan belajar yang aman. Dengan demikian, setiap siswa dapat mengikuti pembelajaran secara nyaman.

Sekolah Inklusif Tangsel Dorong Lingkungan Bebas Perundungan

Pilar meminta siswa, guru, dan kepala sekolah menjaga iklim pendidikan yang positif. Mereka harus mencegah diskriminasi dan perundungan di lingkungan sekolah.

Selain menjaga keamanan, sekolah perlu memperkuat dukungan antarsiswa. Dukungan teman sebaya membantu siswa berkebutuhan khusus beradaptasi lebih baik.

Namun, pendidikan karakter tidak hanya bergantung pada sekolah. Orang tua memegang peran penting dalam pembentukan perilaku anak.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Deden Deni, menegaskan pendidikan pertama berlangsung dalam keluarga. Sebab, anak menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Menurutnya, pengawasan keluarga dapat mencegah berbagai persoalan remaja. Misalnya, perundungan, tawuran, dan perilaku menyimpang lainnya.

Orang Tua dan Sekolah Perkuat Pengawasan Digital Anak

Sementara itu, perkembangan teknologi menghadirkan tantangan baru bagi dunia pendidikan. Anak-anak kini mengakses informasi digital dengan lebih mudah.

Karena itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel mendorong penerapan sistem elektronik yang aman bagi anak. Langkah tersebut bertujuan melindungi peserta didik dari risiko ruang digital.

Selain sekolah, orang tua juga perlu mengawasi penggunaan gawai di rumah. Pengawasan tersebut membantu anak menggunakan teknologi secara bijak.

Melalui kolaborasi yang kuat, sekolah dan keluarga dapat menciptakan lingkungan yang aman. Dengan begitu, anak tumbuh dalam suasana inklusif, sehat, dan bebas perundungan.

(LIF)

BERITA LAINNYA