Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Atlet putri gagal masuk SMA Negeri meski sudah mengharumkan nama Indonesia di ajang internasional. Kisah Bunga Sekar Anjani memicu perhatian publik karena prestasi olahraga belum mampu membawanya lolos Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) melalui jalur prestasi nonakademik.
Atlet putri gagal masuk SMA Negeri itu menjadi perbincangan setelah hasil SPMB diumumkan. Bunga pernah membela Indonesia dalam turnamen sepak bola putri di Swedia. Namun, pencapaian tersebut belum cukup untuk mengantarkannya memperoleh bangku di SMA Negeri melalui jalur prestasi.
Sang ibu, Suryanah, mengaku sangat terpukul setelah melihat hasil seleksi. Ia mengatakan rasa bangga atas perjuangan putrinya bercampur dengan kesedihan karena harapan melanjutkan pendidikan di sekolah negeri belum terwujud.
Menurut Suryanah, Bunga berlatih secara disiplin selama bertahun-tahun. Selain itu, putrinya juga harus membagi waktu antara latihan, pertandingan, dan kegiatan belajar. Karena itu, keluarga berharap prestasi tingkat internasional mendapat apresiasi dalam proses seleksi.
Ia mengaku tidak mampu menahan air mata sejak pengumuman keluar. Sebagai orang tua, ia hanya ingin perjuangan putrinya memperoleh kesempatan yang sama untuk mengakses pendidikan melalui jalur prestasi.
PSSI Tangsel Minta Evaluasi Jalur Prestasi Nonakademik
Peristiwa tersebut kemudian menarik perhatian PSSI Kota Tangerang Selatan. Wakil Ketua PSSI Tangsel meminta Pemerintah Provinsi Banten mengevaluasi mekanisme penerimaan peserta didik melalui jalur prestasi nonakademik.
Menurutnya, atlet yang telah mengharumkan nama daerah maupun Indonesia layak memperoleh perhatian lebih dalam proses seleksi. Selain itu, sistem yang berlaku perlu memberikan ruang yang adil bagi pelajar dengan prestasi olahraga.
Ia menilai perjuangan seorang atlet tidak hanya berlangsung di lapangan. Atlet muda juga harus menjaga prestasi akademik sambil menjalani latihan intensif dan mengikuti berbagai kejuaraan. Karena itu, kebijakan pendidikan sebaiknya mempertimbangkan kondisi tersebut.
Evaluasi mekanisme jalur prestasi juga dinilai penting agar mampu memberikan kepastian bagi atlet muda. Dengan begitu, mereka tetap memiliki motivasi untuk berprestasi tanpa merasa khawatir terhadap masa depan pendidikan.
Kisah Bunga Sekar Anjani akhirnya menjadi sorotan karena memperlihatkan tantangan yang masih dihadapi atlet pelajar. Prestasi di tingkat internasional belum selalu sejalan dengan peluang memperoleh akses pendidikan melalui jalur prestasi.
Kasus ini sekaligus memunculkan harapan agar pemerintah melakukan penyempurnaan kebijakan. Dengan demikian, atlet yang telah membawa nama Indonesia di berbagai ajang dapat memperoleh kesempatan yang lebih setara.
Bagi keluarga Bunga, perjuangan belum berakhir.
Mereka berharap kisah ini menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kepentingan. Harapan itu tidak hanya untuk Bunga, tetapi juga bagi atlet muda lain yang berjuang mengharumkan nama bangsa sambil mengejar cita-cita melalui pendidikan formal.
(LIF)























