HALOBANTEN.COM – Istilah “preman” sering kita dengar di Indonesia, merujuk pada individu atau kelompok yang menggunakan kekerasan atau intimidasi untuk mendapatkan keuntungan atau kekuasaan di ruang publik. Namun, tahukah Anda dari mana sebenarnya istilah ini berasal?
Menelusuri sejarahnya, akar kata “preman” ternyata bersemayam dalam bahasa Belanda, yaitu “vrijman”. Kata ini secara harfiah berarti “orang bebas” atau “orang merdeka”. Bagaimana kemudian sebuah kata yang bermakna kebebasan bertransformasi menjadi konotasi negatif seperti yang kita kenal sekarang?
Transformasi makna ini mulai terjadi pada masa kolonial Belanda. Saat itu, “vrijman” seringkali masyarakat gunakan untuk menyebut para pekerja bebas atau buruh harian yang tidak terikat kontrak kerja jangka panjang. Mereka seringkali mencari pekerjaan serabutan dan hidup berpindah-pindah. Kondisi ekonomi yang sulit dan persaingan yang ketat di antara mereka memicu perilaku-perilaku yang menyimpang, termasuk tindakan kriminal dan pemerasan untuk bertahan hidup.
Seiring berjalannya waktu, stigma negatif terhadap kelompok pekerja bebas ini semakin melekat. Istilah “vrijman” pun mengalami pergeseran makna menjadi identik dengan sosok yang kasar, suka memaksa, dan terlibat dalam kegiatan ilegal.
Kondisi sosial dan politik pasca-kemerdekaan turut memperkuat proses ini. Di mana kelompok-kelompok tertentu menggunakan kekerasan untuk mempertahankan pengaruh atau mendapatkan keuntungan ekonomi.
Hingga kini, istilah “preman” terus muncul dalam masyarakat Indonesia, meskipun dengan berbagai interpretasi dan konteks. (*/bbs)































